Home » » One Night Stand.

One Night Stand.

Club Soyer ramai sekali Jum'at malam itu, tapi Nicholas Petersburg tak kesulitan sama sekali berjalan melewati antrian satu per-satu. Pria jangkung berambut pirang ikal itu memandangi orang-orang yang tidak diperbolehkan masuk club karena kurang keren.

Nick bukan orang kaya yang keren, tapi dia bernyali. 6 tahun lalu di depan Soyer, dia menari striptease. Semua orang menyerukan namanya sejak itu, dia pun jadi tamu tetap di Soyer dan mendapatkan langganan Vallet spesial disana.Langkah Nick terhenti, memandangi Brian si penjaga yang kerepotan menangani salah seorang antrian yang ada di depan sendiri. Seorang cewek manis dengan kaos pink dan jeans Levis berpayet. "Dengar ini kau... Arnold Swatzenegro!

Hari ini adalah ulang tahun sahabatku dan aku takkan beranjak darisini kecuali kau membiarkanku masuk!"Nick menyela dan menepuk bahu Brian.
"Malam yang repot, Brian?"
"Cinderella ini memblokir jalan, aku akan berterima-kasih kalau kau bisa mengusirnya.""No problemo."
Nick lalu menoleh ke si bawel dengan bola mata hijau tadi. "Hei, kau mau masuk?"
Cewek itu menoleh congkak. "Aku berdiri disini kan? Tentu saja aku mau masuk!"
Brian menyikut dada Nick dan berbisik. "Kau sedang bicara dengan macan betina."Nick terkekeh. "Dan kau sedang berbisik pada macan jantan." Guraunya.
Bukan Nick namanya kalau tidak ahli, tak lama dia menoleh lagi pada cewek tadi.
"Aku bisa membiarkanmu masuk dengan satu syarat. Kau harus mau kuajak pulang malam ini."Cewek itu menyipit. "Panjatlah Everest, dan kalau kau bisa selamat kembali kesini membawa Yetti... maka aku akan tidur denganmu semalaman penuh."Cewek ini membuat playboy macam Nick serasa tak ada harganya sama sekali.
Nick tak habis akal. "Aku tidak sedang bernegosiasi, Shirley Temple. Tidur denganku atau disini semalaman. Kujamin kau takkan masuk tanpa rekomendasiku, jadi siap-siap mengecewakan temanmu karena kadomu gagal total. Sampaikan padanya, selamat ultah." Ujar Nick membalikkan badan sinis sambil menghitung jarinya.

Tricknya selalu berhasil, dan kali ini bukan pengecualian. Dalam hitungan 5 mundur, dia pasti menang. 5...4...3...2..."Tunggu!"
Panggil cewek judes tadi. "Hei pirang, stop!"
Nick menoleh lagi sok polos. "Apa kudengar kau memanggilku barusan?"
"Hanya tidur sekali kan? Setelah itu aku boleh masuk club?"Nick mengangguk. "Sekarang dan selamanya. Anggap saja setelah ini, Soyer rumahmu."
Cewek itu memandang Nick. "Ok." Jawabnya menarik nafas panjang.
Diangkatnya dagu congkak dan berjalan melewati Brian. "Bukakan pintunya untukku, kau... raksasa bau."
Brian melirik Nick yang menyusul masuk. "Thanks, Nick. Bunuh dia untukku."

Club hingar bingar, musik keras dan lampu gemerlapan membuat Nick langsung menoleh pada cewek dibelakangnya tadi. "Siapa namamu?!""Milla!!" Jawab cewek itu, berteriak karena kalah suara. "Panggil aku Nick! Dengar Milla, aku akan menyapa teman-temanku dulu.
Nanti kita bertemu lagi tengah malam di pintu samping club! Kalau kau tidak datang, kuasumsikan kau hanya cewek manja yang tidak sportif dan pengecut! Cukup adil?!"Milla menjulurkan lidahnya mengejek. "Aku sportif! Dan itu akan kita buktikan tengah malam nanti. Masalah impotensimu, kita buktikan setelahnya! Bye!"

----------

Nick tertawa kecil atas kelucuan Milla seraya berjalan menghampiri sebuah meja di pojok tempatnya bertemu teman-temannya.
Diciumnya pipi cewek berkaos belahan rendah dengan rambut merah menyalanya yang khas. "Apa aku ketinggalan berita?"Catherine Warren menyiapkan kursi untuk Nick. "Dani kehilangan promosinya."
"Apa?!" Pekik Nick, ganti menoleh pada cewek disebelah kirinya yang malam itu kelihatan manis dengan tank top warna ungu tua dan potongan rambut coklat muda yang selalu diekor kuda. Danielle Green, si maniak kerja.Nick menjentikkan jari, memesan Tequila.
"Kau sudah mengincar promosi ini bertahun-tahun! Sudah kubilang, segera keluarlah dari kantor keparatmu itu dan kirimkan desainmu ke tempat lain. Masa depanmu jauh lebih luas diluar sana."
Danielle Green mencibir. "Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau saat berhenti, aku justru tak mendapatkan pekerjaan yang lebih baik? Siapa yang nantinya mengirim uang untuk Ibuku di Memphis dan membayar tagihan-tagihan yang makin menumpuk tiap harinya di meja makanku?"
" Itu resiko yang harus kau tempuh."
" Well, aku hanya tak siap dengan resiko itu." Sela Dani bersikeras, menyisir poninya dengan jari-jari tangan kanan.
Cat mengernyit. " Dani sangat sesuai dengan apartmentnya, sama membosankannya. Tak ada kehangatan disana, tak ada perbaharuan dan kehidupan nyata sama sekali. Setiap hari hanya bekerja dan bekerja, tak ada yang bisa membuatmu santai."
Dani mencibir. " Maaf, tapi aku memang tak suka hal-hal baru."
" Atau cowok-cowok baru." Sela Nick.
" Aku sudah mencoba 2 kali hubungan serius dan semua gagal. Yang pertama terlalu tua dan menggurui, dan yang kedua terlalu muda dan naif. Aku hanya tak mau tergesa-gesa mencari seseorang, beresiko menjalaninya dan kalau kehilangannya akan lebih sakit."
Nick mengambil Tequilanya yang baru datang. " Seperti Michael."
Cat langsung memukul lengan cowok pirang itu. " Nick! Jangan sebut nama itu!"
" Berapa lama? 2 tahun?" Sindir Nick.
" Kau harus melanjutkan hidupmu, Cat."Cathy meneguk Scotchnya emosi. " Memang, hari ini aku mengencani Nate."
" Aku bertaruh, Cat akan mencampakkannya bulan depan." Sela Dani.
" Bulan?" Nick menoleh pada Danielle. " $100, aku bertaruh minggu depan."
" Sangat tidak relevan bagaimana sahabat-sahabatku bertaruh tentang hubungan asmaraku di depanku sendiri, ada terlalu banyak kenangan dengan Michael yang tak bisa kujabarkan. Kalian tidak mengerti sih bagaimana rasanya memiliki seseorang, jadi bisanya cuma mengejek." Protes Cathy dengan mimik sinis.
"Misalnya kau Nick, lihat caramu berganti mangsa tiap hari. Yang kau lakukan cuma meniduri hampir separoh cewek di Manhattan, kau tak pernah terlihat percakapan dengan mereka. Itu sebabnya kau selalu merasa kekurangan, begitu juga denganmu- Dan."Dani mengerut.
" Aku kenapa? Aku selalu berkomunikasi dengan pacarku."
" Tapi kau tak pernah benar-benar merasakan koneksi kan?" Sahut Cat.
" Kau dan mereka bicara tentang dua hal yang berbeda, dengan topik dan level yang berbeda. Mereka hanya mendengarkanmu dan tidak benar-benar memahamimu, itu yang membuatmu selalu memutuskan mereka. Karena dalam hatimu, kau tahu yang tepat datang terlambat."
Nick menyalakan rokok untuk Danielle.
" Oh, jadi Michael adalah yang tepat?"
" Tadinya menurutku begitu..." Cat mengeluh.
" Kurasa aku ingin mencoba alternatif saja. Dan ngomong-ngomong tentang alternatif, kurasa Dani harus mencoba bartender yang meliriknya dari belakang meja sana."
Danielle terdiam, langsung menoleh ke arah meja bar.
Disana tampak seorang bartender muda berbadan tinggi jangkung, sedang memandanginya. Kulitnya begitu pucat, dengan mata sipit dan potongan rambut cepak kecoklatan. Saat mata mereka beradu, Dani buru-buru membuang muka lagi. Aku belum pernah melihatnya, apa dia bartender baru?"
" Apalagi yang kau tunggu? Datanglah kesana dan ajak kenalan." Desak Nick.
" No!" Dani menggeleng, menghisap rokoknya dalam-dalam.
" Aku sedang menghindari komitmen, terlalu banyak kecewa membuatku semakin sinis dan mati rasa sekarang. Mungkin soulmate memang benar-benar tidak ada. Itu cuma konsep abstrak yang diciptakan agar kita bisa tetap optimis. Sudah sudah, aku mau pulang saja."
Catherine memakai mantelnya buru-buru. " Aku juga harus menemui Nate diluar. Bagaimana denganmu, Cassanova? Siapa yang akan kau tiduri malam ini?"Nick terkekeh.
" Seorang cewek manis bernama Milla, kami berkenalan di pintu masuk."Danielle berdiri dan keluar dari meja mereka. " Ketemu Minggu depan. Jangan lupa kondom kali ini, meskipun keakuratannya cuma 97% tapi itu efektif menahan spermamu."
" Ya, dan kalau kau butuh apa-apa, aku membelikanmu vibrator di laci apartmentmu."
" Fuck you." Dani mengacungkan jari tengahnya pada Nick sebagai tanda pamitan.

Cewek bersepatu boots itu berlari menyusul Catherine yang sudah menunggunya di pintu keluar. Sahabat ceweknya itu berdiri disana dengan seorang cowok asing berjaket denim dan berambut emas lembut. Sekilas penampilannya mirip seperti cowok-cowok polos dari Texas.
" Dani, ini Nate. Nate, ini sahabatku Danielle."
Dani mengulurkan tangannya dengan ramah.
" Hai, Cat bercerita banyak tentangmu."
"Aku pergi dulu ya? Sampai ketemu Minggu depan."
Cat mencium pipi Dani sebelum menggandeng Nate untuk segera meninggalkan club.
Danielle hanya bisa memandangi mobil mereka, menyadari bahwa sebenarnya sudah waktunya bagi cewek seumurannya mulai menabung membeli mobil sendiri.

Berjalan sendirian di malam hari seperti ini, kadang enak, tapi kadang bisa terasa sangat kesepian. Catherine memandangi Nate yang menyetir penuh konsentrasi menuju ke apart-mentnya di pinggiran Manhattan. " Jadi... ini sudah kencan kita yang kelima kan?"
Nate melirik sebentar. "Iya."
"Apa kau merasa cocok denganku? Bukan maksudku mengintimidasi, hanya saja..."
"Aku tahu maksudmu."
"Jadi..."
"Jadi..." Gumam Nate.
" Bisakah kita bicara nanti saja? Aku sedang menyetir sekarang."
Cat terdiam, mulutnya seolah dijahit dengan paksa begitu mendengar jawaban Nate barusan. Dia diminta untuk diam, itu sangat... canggung sekaligus menyinggung. Tapi yeah, satu-satunya yang bisa dilakukannya hanyalah bengong memandangi pemandangan lewat jendela mobil Buick biru tua itu.
Dia berdoa kalau komunikasinya dengan Nate tidak lancar, maka sebaiknya sex mereka baik-baik saja.Sementara itu Nick memastikan jam tangannya tidak salah begitu dia beranjak dari kursi dan berjalan menuju pintu keluar club Soyer di samping.
Cowok berjas hitam itu mengusap bibir merahnya, ketika melihat sosok manis Milla berjalan bersamaan de-ngannya keluar club. " Kukira kau tidak akan datang."
" Dan melewatkan moment mengejek ukuran anumu? Kukira tidak."
" Apa kau selalu bicara seperti itu?" Nick tertawa sambil mengeluarkan kunci mobilnya, menuntun cewek berambut coklat keemasan panjang itu menuju ke parkiran. Dibukakannya pintu mobilnya dengan senyum merayu.
" Sarkasme hanya menunjukkan semakin lemah seseorang itu."
" Aku tidak lemah!"
" Kalau begitu mari kita buktikan." Tantang Nick, masuk ke mobil dan mulai menyetir.

Milla Kossetch hanya diam sepanjang perjalanan menuju ke apartment Nick, dia tak mengenal pria itu sama sekali dan tak mempercayainya juga. Milla hanya menantang bahaya saat menyetujui usul melewatkan semalam tidur dengan Nick, tapi sekarang dia tak punya pilihan selain menurut, waktu mereka akhirnya sampai di dengan gedung apartment mewah milik Nick.Pria itu berjalan di depannya, menekan tombol lift dan seketika membuat Milla gugup.Mereka sampai di kamar apartment Nick di lantai 7.
Disana Nick langsung me-nyalakan musik slow dan melepas satu persatu kancing kemejanya.
" Apa kau mau mandi dulu atau langsung saja?"Milla menelan ludah, menyembunyikan kepanikannya.
" A.. a.. ma.. mandi."Nick menengok muka merah cewek yang dibawanya pulang itu.
" Kenapa bicaramu gagap? Hey, mukamu juga merah padam. Apa kau tidak apa-apa? Kau gugup?"
" Gugup?! Tidak sama sekali, a.. aku tidak takut apa-apa!"
" Oke oke, terserah. Kamar mandinya disana, aku akan menunggumu disini."
Milla berjalan cepat menjauhi Nick, mengunci kamar mandi dan duduk di toilet duduk dengan mata terpejam erat-erat. Mulutnya komat-kamit membaca doa, sementara keringat dinginnya tak berhenti menetes dari pelipis. Milla... gugup setengah mati!


Tinggal 4 block lagi dan Danielle akan sudah sampai di apartmentnya, bisa tidur dan melupakan kenyataan bahwa dia melewatkan malam sendirian tanpa siapa-siapa.
" Hei!" Panggil seseorang dari belakang.
" Hei tunggu!"Danielle menghentikan langkahnya, menoleh kaget mendapati seorang cowok berjaket hijau tebal, berlari menghampirinya tergesa-gesa.
Cowok jangkung itu lalu berhenti disebelahnya.
" Maaf, aku tak bermaksud membuntutimu atau apapun."
Dani mengerutkan kening. " Bukannya kau bartender di Soyer tadi?"
"Ya, aku Jeff Griffith." Ujar cowok jangkung itu sambil mengulurkan tangan.
" Da... Danielle Green."
" Akhirnya." Jeff mengusap kepalanya yang nyaris plontos.
" Maaf, hanya saja... aku sangat ingin menyapamu. Aku beberapa kali melihatmu di club dan kurasa ini saatnya."
Ada senyum geli di raut wajah Danielle saat dia memutuskan kembali berjalan dan membiarkan Jeff menemaninya. Dia tak percaya Jeff berlari sejauh itu menyusulnya.
" Kau berjalan bersamaku, apa kau tinggal di arah sini?" Tanya Danielle.
" Lagipula bukankah jam kerjamu belum selesai? Kau tak takut melanggar aturan dan dipecat?"
Jeff menggeleng dengan tawa kecil. " Aku hanya ingin mengantarmu pulang, dan aturan memang dibuat untuk dilanggar. Terutama demi sesuatu yang lebih berharga."
Danielle menoleh. " Apa yang lebih berharga dibanding pekerjaanmu di club?"
Jeff menggumam agak lama sebelum menjawab singkat.
" Kau."
Dengan tawa kecil, Dani menggeleng-geleng kepala.
" Kau tidak terfokus."
" Siapa bilang? Selain bartender, aku juga kadang manggung di Soyer. Aku dan teman-temanku berencana merekamnya dan memberikannya pada produser yang akan melihat pertunjukan kami Minggu depan." Sela Jeff bersemangat.
" Untuk beberapa saat aku bertanya-tanya tentang distribusinya, tapi lalu kupikir lagi yeah... jalani saja."
" Menarik sekali." Danielle mencoba membandingkan dengan dirinya.
" Aku tak pernah berani ambil keputusan beresiko, takutnya malah merugikanku nanti. Terlalu.. riskan."
Jeff menoleh. " Tapi kalau tidak diambil, kau takkan tahu hasilnya. Ini sebenarnya penyakit masyarakat umum sekarang. Mereka cuma bisa bermimpi tanpa bergerak frontal. Mereka cuma bisa diskusi interaktif lewat satelit tentang penanganan masalah ozone atau kemiskinan, tapi setelah itu mereka kembali ke kegiatan rutin bermain Bingo dan tidur ditemani Decaf! Mereka mengobrol, menghakimi, tapi tak melakukan apa-apa! Kemunafikan adalah penyakit kedua setelah anti-empatis yang membuat dunia mundur. Itu juga yang membuat demokrasi makin lama makin mirip dengan paham rezim komunis."
Dani terkekeh, memperhatikan cara bicara Jeff yang sangat serius menganalisa permasalahan terkini dunia. " Beberapa trauma dan kebosanan membuatku seperti sekarang ini. Semakin lama aku semakin menjadi individu yang picik, sinis, dan dingin."
" Kau tahu apa yang kau butuhkan?"
" Apa?"
" Sedikit support dan... chili dog." Jeff menarik tangan Dani di depan stand chili dog di pinggir trotoar. Dipesannya dua chili dog dengan ekstra saos sambal.
" Kalau ini tak bisa mengembalikan optimismemu, maka setidaknya ini bisa membuatmu sakit perut."
Dani tertawa melihat polah lucu Jeff untuk menghiburnya.
Pria bersenyum menawan itu sudah merebut hatinya hanya dalam semalam dengan kepekaannya terhadap hal-hal kecil.
Sambil menunggu chili dognya, Danielle menatap Jeff lembut. "Apa kau tahu ka-lau apartmentku hanya beberapa block dari sini?"
Jeff menoleh, ada ekspresi kaget sekaligus senang di raut wajahnya.
" Benarkah..."


Ini keterlaluan....!!Nick melirik jam dinding dengan jengkel. Milla sudah hampir satu jam mengurung diri di kamar mandi, membuatnya terpaksa menggedor pintu.
" Kalau kau tak keluar, aku akan mendobrak dan kita terpaksa bercinta di kamar mandi!"
Butuh beberapa menit sebelum akhirnya pintu dibuka dari dalam.
Milla keluar dengan kepala menunduk terus seolah-olah semangatnya sebagai macan betina hilang begitu saja. Nick mengerutkan kening.
"Hey, kau menggigil. Ada apa?"
" Aku harus mengaku... aku rasa aku tidak siap. A..aku... aku masih perawan."
" Jangan bercanda." Nick meremas rambut dengan jengkel. " Berapa umurmu?"
" 20 tahun."
" Tak ada yang namanya perawan 20 tahun, kecuali kau tinggal di Biara!" Bentak Nick.
" Well, lihat sisi baiknya. Kita bisa ngobrol disini..." Sahut Milla polos.
" Aku ini seorang pemain! Aku tidak ngobrol, aku berbuat! Aku tak pernah bicara dengan cewek yang akan kutiduri!"
Dengan jengkel, Nick menghempaskan badan di kasur dan memandang acuh pada Milla yang menyusul. Ternyata sikap galak Milla hanya kedok menyembunyikan kepolosannya saja. " Kalau mau bicara, aku yang menentukan topik. Aku ingin ngobrol tentang kesuksesan."
" Oke."
" Tahu apa kau tentang kesuksesan?" Sela Nick remeh, mencoba mengetes Milla.
Milla meringis, menunjukkan giginya yang lucu mirip kelinci paskah.
" Sukses adalah kemampuan melewati kegagalan demi kegagalan tanpa kehilangan antusiasmemu. Itu quote kesuksesan favoritku dari Sir Winston Churchill."
Nick menyungging senyum samar dari muka manyunnya, menyandarkan kepalanya di bantal dan mulai mau membuka mulut.
" Bagaimanapun kematian Churchill disebabkan oleh harga diri dan idealismenya sendiri. Itu yang kita sebut ironis."
" Tapi harus kuakui kalau dia menang dalam kematiannya, itu yang kita sebut patriot."
" Dan harus kuakui kalau kau teman ngobrol yang lumayan."
" Bolehkah aku tidur berbaring disebelahmu? Hanya tidur saja, tak melakukan apa-apa?"
Nick mengangguk pelan. " Terserahlah. Ini akan jadi malam yang panjang... hh..."


Di apartment Nate, keadaan makin memanas. Seperti penampilannya, Nate memang jago dalam memanjakan cewek. Begitu masuk ke kamar, cowok itu langsung menerkam Catherine tanpa banyak basa-basi dan rayuan. Tapi semua itu terhenti mendadak begitu handphone Cat berbunyi dengan nyaringnya, mengagetkan mereka berdua yang baru saja akan memulai foreplay.Cat mengeluarkan handphone dari tasnya, mendorong badan Nate kembali ke atas kasur begitu saja. Sebuah message terkirim dari Michael, mantannya. * Mereka menolak presentasiku, dasar perusahaan brengsek! Temani aku minum, Cat. Kondisiku parah sekali sekarang *Cat terdiam, tak menghiraukan Nate yang kemudian bangun dan mencium lehernya dengan mesra.
" Kau mau melanjutkannya?"
" Kurasa tidak." Cat bangun, mengancingkan kancing atas bajunya dan buru-buru memakai mantelnya kembali.
" Aku harus pergi, aku dibutuhkan disuatu tempat."
" Kau akan meninggalkanku dalam keadaan begini?"
" Jangan jadi bayi, Nate. Lanjutkan saja sendiri, pakai kaset atau apa. Onani tak perlu dilakukan 2 orang, kan?" Sindir Catherine, dengan cuek berjalan cepat melintasi ruangan dan berlari keluar dari apartment. Cewek itu dengan gesitnya naik di bus pertama yang mengantarnya ke apartment lainnya tak jauh dari tempat Nate, kali ini dia akan menemui orang yang benar-benar berbeda.
Satu-satunya cowok yang mampu membuat perasaannya kacau tak menentu setelah perpisahan mereka beberapa tahun lalu.
Tanpa mengetuk, Cat bisa langsung masuk karena pintu dibiarkan setengah terbuka. Karena masih hafal letak-letak apartment Michael, Cat bisa langsung masuk ke kamar tidur dan mendapati Michael Treggory duduk bersandar dengan lemas di tempat tidurnya sendiri. Cowok berambut jabrik dengan pipi dan dagu dipenuhi bulu-bulu halus kecoklatan tua itu menoleh memandang kedatangannya dengan senyum samar.
" Hei."
" Mike, lihat kamarmu! Apa kau mau mengadakan ritual sesat? Kenapa banyak sekali botol bir dan rokok?! Kau kan baru keluar dari rehabilitasi!" Tegur Catherine khawatir. Michael melirik Cat yang langsung beres-beres.
" Biarkan saja sampah-sampah itu dan duduklah disini disebelahku! Aku perlu mereka untuk inspirasi presentasi."
" Inspirasi?? Dengan mengkonsumsi sampah?"
" Jangan sepelekan rokok dan bir, mereka alat bantu yang hebat. Shakespeare saja bisa berkarya karena menghisap opium tiap harinya." Gerutu Michael.
Cat duduk disebelah mantannya itu.
" Tepat sekali, dan Shakespeare sudah mati. Tahukah kau? Tadi aku hampir bercinta dengan kencanku, seorang cowok bernama Nate. Kami di kamarnya dan sedang bercumbu, ketika kau mengirim SMS."Michael terkekeh.
" Aku menghentikan kalian?"
" Ya."
" Dia sudah keluar?"
" Kurasa begitu."
Michael langsung tertawa ngakak mendengarnya, tertawa terpingkal-pingkal sampai akhirnya berhenti sendiri waktu dia memutuskan bersandar lagi di kasur belakangnya dan menghela nafas panjang.
" Ini menggelikan ya? Hubungan kita seperti karierku, ber-putar-putar tanpa akhir seperti jet coaster. Kita tak tahu kapan diakhirinya sampai semua berakhir, dan saat kita kira semua berakhir..."
" Ternyata belum."
" Yeah." Michael menoleh, memandangi wajah Cat dengan hela nafas.
" Boleh kucium?"Cat terdiam, memandang Michael sebentar sebelum bergerak mencium pria itu tulus. Bisa dirasakannya sisa rokok dan bir yang menyengat dari bibir pria berbola mata biru menyala itu.


Malam itu, sekali lagi, Catherine termiliki oleh masa lalu. Terikat disana.06:30, Golden Apartment...Ada pegal-pegal tersendiri pagi itu, bukan karena bercinta semalaman. Tapi lebih karena melewatkan berjam-jam ngobrol dengan Milla, yang sekarang dengan polosnya malah tertidur di atas dadanya.
Sebenarnya setiap pagi Nicholas selalu buru-buru minum kopi di balkon, memandang pemandangan Manhattan darisana, dan bersiap berangkat kerja. Tapi pagi itu, entah kenapa perhatiannya keburu tertuju pada sosok manis yang meringkuk tertidur di tempat tidurnya. Seolah tak mau beranjak sedikit pun dari Milla, Nick justru mengeratkan pelukannya pada cewek manis itu, mencium bibirnya perlahan sambil ber-bisik lirih.
"Selamat pagi, princess."Milla membuka mata kaget.
"Apa kau baru saja menciumku?"
" Kenapa? Tidak boleh sex, bukan berarti tidak boleh mencium- kan?"
" E.. eh iya sih."
" Kau tidak suka?"Milla terdiam, menelan ludah dan menyembunyikan ekspresi groginya.
" Suka..."Nick tersenyum geli, mendekat dan memutuskan hendak mencium cewek itu lagi.

Buat pertama kalinya meski tanpa sex, dia bisa menemukan kenyamanan berdekatan dengan seseorang.
" Kalau begitu kita bisa mencoba melatihmu dengan ciuman dulu..."


07:00, La Vie Apartment...Mata Danielle memircing begitu melihat silaunya sinar matahari yang masuk di jendela kamarnya. Kepalanya masih di bantal waktu melihat sosok Jeff tergesa-gesa menarik resleting celana dan bangun dari kasur.
" Selamat pagi..." Jeff menoleh kaget, tak menyangka Danielle sudah bangun.
" H.. hei, pagi."
" Kau... mau pergi?" Tanya Danielle pesimis.
" Apa ini tradisi one night stand dimana pria bisa pergi seenaknya sendiri tanpa meninggalkan nomor telfon? Fuck."Jeff tertawa kecil.
" Aku tidak berniat pergi kemana-mana, aku hanya terlambat. Aku ingin membuatkan sarapan, tapi aku malah bangun melebihi batas yang kurencanakan." Danielle menoleh lagi.
" Kau akan membuatkanku sarapan? Kau bisa masak?"Jeff mengangguk pasti.
" Ya, pastinya. Kau mandilah dulu, kutunggu di dapur ya."
Danielle buru-buru mandi, lalu keluar mendekati Jeff di dapur. Pria itu sibuk mengeluarkan bahan seadanya dari kulkas, lalu memasaknya di kompor gas. Danielle memandangi tangan Jeff yang mengiris bawang dengan cekatan. Irisannya tipis sempurna. Pria itu berdiri tegak dengan dada telanjang yang memucat dan mengundang, meliriknya dan sejenak kemudian memajukan wajahnya memberi ciuman pada bibir Danielle. Dani tersenyum, menyambut mencium bibir Jeff mesra. Memautnya, merasakan rasa tawar bibir lunak itu beberapa lama.
Jeff ahli banget mencium.
Dalam gerakan bibirnya, Dani seolah merasa sedang beristirahat.
Rasa capeknya selama ini, larut dalam suasana mesra. Dani melepas bibir Jeff yang basah dengan senyum simpul.
" Aku harus menelfon seseorang dulu, kau teruskan saja masaknya."Danielle menghubungi kantornya.
" Stan, ini aku. Katakan pada Pete kalau aku mengundurkan diri, suratnya menyusul besok. Thanks..." Telefon langsung ditutupnya.
Tanpa bertele-tele, tanpa basa-basi. Dalam beberapa menit tadi, Danielle sudah menyeberangi resiko besar dalam hidupnya. Mengundurkan diri dari pekerjaan sangat tidak mudah tapi entah kenapa pagi itu Danielle seolah dikuatkan untuk membulatkan keputusan. Dia lalu menghampiri Jeff yang sudah duduk di kursi seusai menyiapkan meja makan.Air muka Dani terpaku memandangi meja makannya, ada yang berbeda pagi itu.
Jeff menatanya dengan sempurna, disana tak ada lagi tagihan menumpuk yang membuatnya stress. Meja itu sekarang dipenuhi dengan menu-menu masakan ringan untuk sarapan, tepat seperti kegunaannya yang seharusnya. Meja makan.Dani duduk di atas pangkuan Jeff, merangkul leher pria itu dan menyandarkan kepalanya di bahu Jeff.
" Kelihatannya enak."Jeff mencibir.
" Kau takkan tahu sebelum kau mencobanya. Berani ambil resiko?"Dani terdiam, memandangi mata coklat Jeff.
" Tentu saja..." Bisiknya seraya mencium bibir Jeff. Mendapatkan cowok itu juga adalah resiko berbahaya, tapi sekaligus menyenangkan. Dani hanya bisa bersyukur resiko itu datang tepat waktu.Pagi itu tak tergantikan. Mirip seperti pagi-pagi biasa dalam kesehariannya, tapi bedanya kali ini Danielle tidak sendirian lagi. Ada badan untuk dipeluknya, aroma wangi masakan tercium dimana-mana, dan apartmentnya... mendadak saja terasa hangat. Soyer Club, minggu depannya...Brian melepas kaca-mata hitamnya kaget. Bukan apa-apa, tapi dia melihat Nicholas Petersburg membawa seorang cewek ke club malam itu. Dia kan cewek merepotkan yang memaksa masuk club seminggu lalu karena ultah temannya? Seorang playboy selevel Nick, mengencani seorang cewek lebih dari sehari?? Itu keajaiban.Milla melewati Brian.
" Hai." Sapanya sinis.
" Bye."Nick menggandeng pacarnya melewati kerumunan penggila dunia malam dengan susah payah, mengajaknya menghampiri meja pojok dimana Danielle dan Catherine sudah menunggunya disana seperti biasa.
Kali ini agak berbeda, Nick terkejut melihat yang ber-kumpul malam itu bukan cuma Cat dan Dani. Tapi juga ada Michael, mantan pacar Cat!Nick terkekeh, menepuk pundak Michael Treggory yang sedang asyik meneguk sebotol bir murahan. Tapi bukannya menyapa Michael, dia langsung menengadahkan tangan pada Danielle.
" Taruhannya $100 kan?"Dani mengeluarkan uang taruhan dengan muka bersungut-sungut.Mike menoleh.
" Kalian bertaruh apa?"
" Tentang kencanmu dan Cat yang selalu putus nyambung. Ini dan itu."
" Sudah kuduga." Nick duduk disebelah Mike.
" Kalian bisa kencan dengan siapa saja, tapi pada akhirnya kalian akan kembali pada satu sama lain. Ini kutukan, man."
Cat menfokuskan dirinya pada Milla, cewek manis dengan pipi semerah tomatnya yang tersipu malu berada diantara teman-teman baru.
" Nick banyak cerita tentangmu, dan harusnya kau bangga. Ini pertama kalinya Nick kencan lebih dari sehari tanpa sex."
Milla tersenyum. " Aku hanya tak ingin terlalu berorientasi pada itu. Oh iya ngomong-ngomong kata Nick, Danielle mengencani bartender club ini?"
Cat mengangguk. " Namanya Jeff, dan dia manggung malam ini. Nah, itu dia!"
Semua mata melihat ke arah panggung. Disana, sebuah band lokal mulai mema-inkan musiknya yang beraliran rock. Danielle bertepuk tangan paling keras sendiri, terfokus pada sosok Jeff yang memegang bass, cowok itu tampak manis sekali disana. Jeff memandangnya dengan senyum lebar, seolah-olah menandai hak miliknya.Perlahan, Nick mendekat dan berbisik pada Danielle.
" Kau tahu? Setelah malam ini, kurasa kita semua akan baik-baik saja."Dani menoleh dengan senyum lebar.
" Kurasa sih juga begitu."
Share this article :

1 komentar:

Silahkan berkomentar, tapi NO PORNO, NO SARA dan NO SAMPAH yah..
Gunakan akun atau link anda, agar aku bisa mengunjungi anda kembali..
Terima kasih.. :)

Google+

Last Comment

Recent Comments Widget
 
Support : Maskolis | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. sharingyuk - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger