Home » » Berkorban Itu Indah

Berkorban Itu Indah

Musim hujan telah berlalu sehingga di mana-mana pepohonan nampak menghijau. Seekor ulat di antara dedaun menghijau yang bergoyang-goyang diterpa angin.

"Apa khabar daun hijau" katanya.

Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang

"Oh, kamu ulat. Badanmu kelihatan kurus dan kecil, mengapa?" tanya daun hijau.

"Lama aku tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Bolehkah engkau membantuku sahabat?" kata ulat kecil.

"Tentu.. tentu.. dekatlah kemari."
Daun hijau berfikir, "Jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau. Hanya sahaja aku akan kelihatan berlubang-lubang. Tapi tak apalah."

Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau.

Setelah makan dengan kenyang ulat berterima kasih kepada daun hijau yang telah merelakan sebagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas di dalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlubang di sana-sini namun ia bahagia dapat melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar.

Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ke tanah, disapu orang dan dibakar.

 
Moral:

Apa yang terlalu berarti di hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Semua yang ada akan mati pada akhirnya..  Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah, tetapi indah. Apalagi merelakan sesuatu yang dengan susah payah sudah kita dapatkan. Ketika berkorban, diri kita menjadi seperti daun hijau yang berlobang namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita, kita akan tetap hijau, Tuhan akan tetap memberkati dan memelihara kita.

Bagi 'daun hijau', berkorban merupakan sesuatu perkara yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya dapat tersenyum kerana pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari bahawa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai 'daun hijau'. Suatu hari ia akan kering dan jatuh.

Demikianlah kehidupan kita. Hidup ini hanya sementara, kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik, kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan kerendahan hati.  Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi kita.  Mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka,memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang dapat kita lakukan.

Yang mana yang sering kita lakukan? Menjadi ulat kecil yang menerima kebaikan orang atau menjadi daun hijau yang senang memberi.
 
 
Gambar : pbase.com
Share this article :

24 komentar:

  1. pertamaxxxxxxxx kayanya neh ..?....

    BalasHapus
  2. wah ternyata benar yeah....

    di setiap postingan selalu memberikan pesan2 moral mantabzzzz dagh....
    ngomong2 gmna kabar adik kecil udah sembuh dari cidera ?...

    BalasHapus
  3. aku lebih sering yang mana ya? bingung.. kayaknya lebih sering memberi deh mbak. Gak tahu memberi apaan. Hha~

    BalasHapus
  4. hmmm yang mana ya Mbak..., lebih baik memberi dari pada diberi
    Hiduplah seperti lilin menerangi orang lain, janganlah hidup seperti duri mencucuk diri dan menyakiti orang lain

    BalasHapus
  5. mantab banget nich pesan moralnya..... makasih mbak udah ngingetin kita2 terutama saya sendiri

    BalasHapus
  6. Yupz, seorang hamba lum dapat mencapai kesempurnaan sebelum dia merelakan harta yang paling disayanginya............

    BalasHapus
  7. berkunjung lagi.. novelnya belum dateng.hihi

    BalasHapus
  8. Bagus sekali pesan moralnya Mbak. Saya ingin sekali bisa seperti daun hijau yang senang memberi...

    BalasHapus
  9. @ Moenas, selamat deh.. jadi yang pertama.. :D
    Alhamdulillah.. semua sehat, berkat do'a om moenas.. :)

    @ Yudex, memberi apa aja terserah.. yang penting niat dan keikhlasannya khan bro ?

    @ Harto, Iya pak.. bener banget.. Jangan sampe kita melukai diri kita sendiri apalagi orang lain..

    BalasHapus
  10. @ Muzzy Musthofa, Makasih kembali mas.. jangan sungkan2 tuk mampir lagi yah..

    @ Topu, bener banget mas.. :)

    @ lina@happy Family, Amin.. semoga niat baik itu dapat terlaksana sist.. :)

    BalasHapus
  11. Itu mah simbiosis mutualisme dan sudah menjadi hukum alam. Daun tidak punya keluarga, teman, saudara, ttpi manusia,.. ? Hmmmn,.. berkorban itu boleh dan harus, ttpi jika memang mampu, jgn sampai berkorban tetapi akhirnya malah menjadi korban, dan akhirnya mengorbankan lingkungan sekitar kita. But nice blog,..

    BalasHapus
  12. cerita yang sangat indah dan sangat mencerahkan mbak... thanks ya... eh iya... maaf kalo lama aku nggak menyambut mbak di rumah dengan semestinya...

    BalasHapus
  13. penyimpuLan keciL saja dari saya, "hidup adaLah perjuangan untuk tetap mempertahankan hidup yang butuh pengorbanan, tetapi bukan berarti pengorbanan tersebut hanya untuk diri pribadi saja. meLainkan juga sebagai mahLuk sosiaL yang saLing membutuhkan satu dengan Lainnya".
    terima kasih, iLustrasi cerita sangat menarik dan mudah dicerna.
    seLamat maLam, selamat istirahat. saLam persahabatan.

    BalasHapus
  14. hmm.. cerita sederhana tapi penuh makna
    juga ada pesan moral.. like this lah

    ijin follow yah...

    BalasHapus
  15. saya suka arikelnya, memang berkorban itu indah, d tunggu coment dan follow baliknya jika berkenan

    BalasHapus
  16. Banyak-banyak lah besyukur dan berkurbanlah pesan Alquranul karim..,nampak jelas disini dan mudah di pahami.

    BalasHapus
  17. Semua akan mati.smw ditakdirkan jika Alloh berkehendak, tidak usah menunggu daunnya jadi menguning.

    Masih hijaupun jika diterpa angin bisa juga jatuh ke tanah.
    Maka dari itu selagi kita masih menancap di dahan pohon berbuatlah kebaikan sebanyak mungkin.

    Syukur syukur jika masih di dahan di petik manusia karena manusia butuh daun itu untuk mengadakan selamatan.

    Si daun dengan suka cita dipetik karena dia merasa bisa berkorban untuk keperluan yang lain.
    Dia cuma berharap demikian ya karena tumbuhan yang ndak di hisab di akhirat, kebanyakan berguna.

    Tapi bagaimana dengan manusia.
    Manusia masih lanjut terus meski udah terlepas dari dahan pohon.
    Cuma berpindah tempat, namun tetap masih terjaga yang tidak bisa di lihat oleh mata manusia.

    Sebuah artikel yang bagus, dengan pesan nurani di dalamnya.

    Makasih kunjungannya.follow too gan.
    Thanks

    BalasHapus
  18. Maaf ternyata komenku kepanjangan.tiada terasa ngetik pake hq justru kepanjangan gan.
    Sori sori

    BalasHapus
  19. menarik pada kalimat terakhir,....
    lebih baik menjadi manusia yang rajin memberi, tulus dan bersyukur untuk menerima apa adanya.

    BalasHapus
  20. inspiratif.. dan berkorban itu belum tentu menyakitkan.. justru di situlah letak kenikmatan.. betul kan mba?

    BalasHapus
  21. pesan moral yang bijak mba..
    met malam ..

    BalasHapus
  22. jadi hijau daun aja dah, lagu2nya enak.. pengantar buat cepet tidur..
    he..he..he..

    BalasHapus
  23. Cerita bgus. & psan moralnya juga bgus.

    Trus brkarya...

    Salam...

    BalasHapus

Silahkan berkomentar, tapi NO PORNO, NO SARA dan NO SAMPAH yah..
Gunakan akun atau link anda, agar aku bisa mengunjungi anda kembali..
Terima kasih.. :)

Google+

Last Comment

Recent Comments Widget
 
Support : Maskolis | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. sharingyuk - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger